Beberapa minggu ini, kesibukan saya berganti dari seorang kuli bikin sistem informasi, menjadi seorang kuli tinta. Yah profesi kuli tinta ini melatih saya harus pandai membuat kalimat singkat, padat dan tersampaikan pesan yang diinginkan. Profesi inipun saya tekuni untuk menyelesaikan pendidikan dibangku kuliah.
Yah langsung sebut saja, saya sekarang ini lagi sibuk nulis tugas akhir ato istilah bekennya di indonesia skripsi. Kalo orang yang ada di barat nyebutnya undergraduate theses. .
Senin kemaren saya memberikan tulisan Bab I, sekaligus memaparkan kerangka kerja untuk skripsi saya di depan pembimbing saya yang baik hati. Karena baiknya saya harus menunggu 3 jam untuk memberikan pemaparan dan tulisan untuk dikoreksi.
Untuk menghindari sulitnya sidang nanti, saya mengajukan satu nama pembimbing yaitu mr. Ikhwan Zarkasi. Tujuannya adalah menghindari cecaran pertanyaan mematikan dan mematahkan jawaban yang akan saya berikan ketika sidang nanti. Karena salah satu dosen yang mengerti betul apa yang saya bahas adalah beliau. Mengingat beliau salah seorang technopreneur dan juga mendalami profesi yang sama dengan saya sebagai seorang analyst dibidang tersebut.
Sayangnya ketika saya mengajukan nama beliau untuk jadi pembimbing II, pengajuan itu langsung di tolak mentah-mentah oleh pembimbing I (pak Ade Jamal). Dengan kalimat berikut âKamu gak bisa kali ini mengelabui saya dengan berbagai alasan yang kamu buat Marion. Saya tau kamu LiCik (Licin dan Cerdik) tapi tidak untuk kali ini. Kamu kan memilih pak Ikhwan jadi pembimbing II, agar gak dapat cecaran pertanyaan di bidang yang kamu bahas kan? Sayangnya saya sudah mengetahui terlebih dahulu.â Dengan ketawa lepasnya pak ade, membuat seluruh isi ruangan terasa sesak dan saya sadar betapa bodohnya saya saat itu ketahuan strategi yang saya terapkan.
Halah, berarti skripsi saya harus perfect dan pas sidang present tanpa celah. Ataupun kalo mo ada celah, saya harus siapin celah pertanyaan agar saya bisa menjawabnya.
Popularity: 1% [?]
Related posts: